Prof Nurdin Abdullah Sang Pengubah Wajah Bantaeng

Perhatian pada aspek pembenahan infrastruktur merupakan salah satu langkah penting dalam memakmurkan masyarakat di suatu daerah.

Nurdirn Abdullah bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang memberikan curahan perhatiannya pada pembenahan infrastruktur di Bantaeng. Pilihan ini diambil dengan mempertimbangkan konteks daerah yang dia pimpin: sepanjang persoalan yang ada di Bantaeng, yang mendesak dan merupakan prioritas adalah persoalan infrastruktur.

Sebelum lebih jauh mengupas bagaimana Nurdin Abdullah memilih memimpin Bantaeng dengan pembenahan infrastruktur, pertama-tama perlu diketahui bahwa Bantaeng adalah suatu daerah yang di zaman dahulu merupakan pusat pemerintahan Belanda. Daerah ini membawahi lima kabupaten. Saat itu, daerah ini disebut sebagai afdeling. Tetapi kemudian menjadi daerah yang tertinggal.

Nurdin Abdullah memiliki kesadaran historis ini. Kesediaan menjadi pemimpin di Bantaeng selain sebagai wujud pengabdian kepada rakyat, juga didorong oleh kesadaran pada sejarah bahwa Bantaeng adalah daerah yang semula merupakan daerah yang diunggulkan. Setidaknya daerah ini pernah memiliki kegemilangan sejarah. Lalu masalahnya apa yang menyebabkan daerah ini jauh dari kemajuan atau masuk dalam daftar 199 daerah tertinggal.

Ada tiga hal yang oleh Nurdin Abdullah dianggap sebagai alasan mendasar. Pertama, minimnya infrastruktur. Kedua, bencana alam terutama banjir yang biasa langganan setiap tahun. Ketiga, produksi pertanian yang terus menurun. Tiga hal inilah yang dipikirkan oleh Nurdin Abdullah.

Bagi Nurdin Abdullah, persoalan keadaan infrastruktur yang sangat kurang tentu saja sangat berdampak signifikan bagi merosotnya kemakmuran rakyat. Jalan di Bantaeng adalah infrastruktur penting yang kemudian harus dibenahi. Jalan adalah pembuka akses bagi kemakmuran. Jalan memungkinkan konektifitas efektif antar wilayah sehingga memperkecil ketimpangan atau gap antar daerah.

Kesadaran inilah yang kemudian menggugah Nurdin Abdullah untuk berkomitmen mencurahkan dalam kepemimpinannya di Bantaeng membenahi infrastruktur jalan. Apa yang dilakukan oleh Nurdin Abdullah pada perbaikan infrastruktur jalan benar-benar terlihat dalam tujuh tahun kemimpinannya: kota tertata rapi, ekonomi tumbuh menggeliat di seluruh pelosok, jarak antara kota dan desa kian cepat terjangkau, jalanan semakin baik dan lebar.

Persoalan kedua yang membuat Nurdin Abdullah mengerutkan dahi adalah persoalan banjir yang dianggap langganan tiap tahun. Dengan kesabaran, konsistensi dan tentu saja kepandaian Nurdin Abdullah untuk menghadirkan berbagai strategi cerdas, akhirnya banjir teratasi. Apa ide cerdas yang dilakukan oleh Nurdin Abdullah adalah: ia mempelajari akar dari persoalan banjir, ia beli potret udara terbaru demi bisa memantau tiap hari dan akhirnya dia bangun cekdam yang fungsinya sebagai pengendali. Ia juga bangun beberapa waduk-waduk tunggu. Nurdin Abdullah menuturkan secara detail kerja dari cekdam pengendali banjir tersebut.

Air kita tahan, kita kontrol pengeluarannya sehingga debit air yang mengalir ke kota kita sesuaikan dengan drainase. Kita bikin pembuangan. Saat drainase levelnya sudah naik, kita buang ke sungai yang khusus untuk pembuangan. Kalau hujan, jam berapa pun saya turun ke jalan mengontrol. Kalau ada yang banjir, saya cek dari bawah sampai ke atas sehingga terlihat daerah mana yang bermasalah.

Dalam mengkaji ini, kebetulan Nurdin Abdullah punya beberapa kolega yang juga profesional: dari Jepang dan Unhas. Dan ia sendiri memperoleh kuliah penanggulan banjir sewaktu kuliah S-3 di Jepang. Sehingga dengan percaya diri dia menegaskan bahwa dirinya mampu mengatasi persoalan banjir. Kepercayaan diri Nurdin Abdullah tidak berlebihan melainkan benar-benar terukur. Dan bisa dilihat hasilnya, hasil kajiannya tentang banjir dan strategi penanggulangannya membawa perubahan besar.

Tentu saja dalam proses membangun infrastruktur, Nurdin Abdullah harus berhadapan dengan masyarakat yang semula tidak sepakat. Mereka bahkan datang melakukan demonstrasi yang intinya menolak pembangunan infrastruktur penanggulangan banjir. Tetapi perlahan dengan caranya Nurdin Abdullah meyakinkan masyarakat, akhirnya mereka bisa mengerti. Pembebasan lahan warga cukup mahal sehingga membuatnya harus merogoh duit pribadi. Tetapi ini demi kepentingan umum, apapun dia lakukan.

Menghadapi masyarakat memang jauh lebih rumit daripada menghadapi benda-benda mati. Di sini Nurdin Abdullah memerlukan kemampuan khusus dalam bernegosiasi dan berdialog dengan masyarakat. Dia membuka rumahnya sebagai tempat yang terbuka bagi masyarakat. Dia serap segala keluhan dan keberatannya satu sisi. Tapi pada sisi lain, dia juga meyakinkan mereka bahwa projek pembangunan infrastruktur tersebut akan dirasakan bersama dampak positifnya. Apa yang dia lakukan semata-mata untuk mengembalikan kebesaran Bantaeng beserta kemakmuran masyarakatnya yang pada satu masa pernah mereka nikmati.

Dan akhirnya, melalui proses panjang itu, masyarakat menerima, pembangunan infrastruktur di Bantaeng benar-benar memberikan perubahan besar. Kemajuan Bantaeng tercapai. Kemakmuran tumbuh subur.

Penulis, Sulaeman, S.Sos (Pegiat diskusi, tinggal di Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *