Dewi Dee Lestari Menyapa Pembaca Lewat Aroma Karsa

PERSEPSI.ID, Jakarta – Bagi penyuka cerita pendek (cerpen) atau novel, tentu saja tidak asing dengan salah satu nama penulis “Filosofi Kopi”: Dewi Dee Lestari. Sosok perempuan kelahiran Bandung, 20 Januari 1976 ini, telah banyak mendedikasikan dirinya untuk menulis. Berbagai karya sastra yang enak dibaca telah berhasil dia ciptakan melalui racikan riset dan imajinasinya.

Setelah berhasil menyulap pembaca dengan keberhasilan dari karya serial supernova dan karya-karya lain sebelumnya, Dee kembali menyapa pembaca dengan petualangan kisah yang baru: Aroma Karsa (Aroma Kehendak). Kisah petualangan ini mengambil pendekatan penciuman.

Dee mengakui bahwa karya yang mengambil pendekatan penciuman ini jarang digarap dalam fiksi. Seperti dikutip dari tempo.co.id, Dee mengatakan: “Penciuman, menurut saya, adalah indra yang jarang digarap di fiksi, deskripsi penciuman juga kalah banyak dibandingkan deskripsi visual”.

Aroma Karsa mengambil bentuk cerita bersambung dalam wujud digital sebelum diluncurkan versi cetaknya. Dengan demikian, pembaca bisa mengikuti kejutan demi kejutan dalam tahapan-tahapan petualangan novel digital itu.

Mengapa Dee memilih mengajak pembaca berpetualang dalam cerita bersambung melalui novel digital? Menurutnya, saat ini versi digital adalah pilihan paling ideal jika ingin membuat cerita bersambung (cerbung).

“Saat ini, ketika terjadi pergeseran teknologi yang mengubah hidup dan kebiasaan kita”, tulis Dee dalam website resminya deelestari.com, “medium untuk cerbung tidak sama seperti dulu. Saya dihadapkan pada kenyataan bahwa platform digital adalah opsi paling ideal jika hendak berkarya dalam bentuk bersambung”.

Pengalaman membuat cerita bersambung versi digital bukanlah kali pertama. Sebelum ini, novel “Perahu Kertas” yang kemudian difilmkan, juga melewati proses cerita bersambung versi digital sebelum menjadi novel dalam bentuk cetak.

Dengan mengambil versi digital duluan dari yang cetak, tidak berarti Dee mengabaikan yang versi cetak. Dia menyadari persoalan romantisme, pengalaman taktis dan juga kemudahan yang bisa diperoleh dari buku cetak.

“Tetapi bayangkan jika saya harus mencetak 18 bagian terpisah-pisah sebanyak 18 kali selama 18 minggu, upaya produksi, pemasaran, distribusi dan komunikasi ke pembaca akan lebih ribet lagi”.

(Man)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *