Saatnya Kritis pada Kampanye Politik

Menunggu kampanye Kholifah (Kholil-Fathurrahman) dan Berbaur (Badrut Tamam-Roja’ie) di Pamekasan (tempat saya lahir) bagi saya adalah hal penting.

Tentu saja kampanye (yang diharapkan) yang berangkat dan dirumuskan dari pembacaan mereka (kedua pasang cabup dan cawabup) secara jeli atas kondisi dan kebutuhan nyata di masyarakat. Kampanye yang bisa dipertanggungjawabkan. Kampanye yang bisa diperbincangkan dan bahkan diperdebatkan oleh kita. Bukan kampanye sekedar kampanye.

Kesadaran semacam ini penting sebab kampanye sejauh ini sekedar dipahami sebagai cara menarik dukungan. Misalnya, seringkali saya temui, para calon datang ke tokoh-tokoh terkemuka, entah itu kiai atau tokoh-tokoh penting lainnya. Kemudian tokoh-tokoh terkemuka tersebut datang menemui kita dengan retorika, (misalnya) “maaf, saya minta tolong dukungan”. Dan selanjutnya, sang tokoh berkata: “insya Allah, si A atau si B amanah”.

Sebagai sebuah obrolan santai (bukan permintaan dukungan serius) tentu saja itu sah-sah saja. Tetapi sebagai sebuah kampanye, retorika seperti itu jelas tidak punya posisi tawar politik yang penting. Kampanye seperti itu tidak memiliki kekuatan politik. Bagaimana mungkin dukungan politik diminta dengan cara demikian? Politik adalah perihal kekuasaan. Dukungan politik adalah dukungan untuk meraih posisi penting sebuah kekuasaan yang kelak seharusnya diorientasikan untuk kepentingan masyarakat.

Sebagai masyarakat yang suara politiknya penting, kami mempertimbangkan kualitas tawaran mereka yang dibungkus dalam kampanye. Kami seharusnya tidak menerima begitu saja kampanye politik tanpa menimbang-nimbang kualitas kampanye.

Tokoh-tokoh terkemuka, seberapapun tinggi status sosial mereka, tidak boleh mengaburkan kesadaran kita untuk menerima kampanye politik. Mereka boleh berkampanye. Mereka boleh menegaskan tentang sosok yang didukungnya. Dan kita boleh menerima atau menolaknya. Politik menyangkut kepentingan rakyat. Maka di sinilah pentingnya rakyat seperti saya bersikap tegas untuk memilih dan memilah dari sekian kampanye politik para calon.

Bagi saya, kampanye politik haruslah mengandung kontrak politik yang tegas. Pertama-tama, kampanye politik seharusnya berisi tentang kejelian mereka (para kandidat) dalam membaca kebutuhan kita, misalnya soal kesejahteraan petani, pemerataan infrastruktur, dan sebagainya. Kedua, kampanye itu harus menawarkan solusi persoalan. Tentu daya kritis dan kesadaran kita sebagai masyarakat diuji di sini. Kesadaran kritis harus bekerja dan berfungsi dengan baik di sini.

Selain itu, kalangan pemuda, dan terutama kaum terpelajar yang pada tingkat tertentu memiliki pemahaman politik lebih ketimbang masyarakat pada umumnya, tidak boleh bersikap diam saja apalagi sekedar jadi juru kampanye. Sebagian dari kaum muda terpelajar haruslah berdiri dalam posisi dan sikap yang kritis. Mereka benteng penting di masyarakat yang seharusnya mampu menyeleksi kampanye politik para calon pemimpin. Idealnya mereka menjadi penyalur informasi kepada masyarakat dengan cara yang objektif dan mengedukasi.

Jika pemuda, para tokoh dan yang terkemuka lainnya justru sekedar jadi tukang kampanye (bukan sebagai tukang filter kampanye), kualitas politik dan pemimpin kita nanti berpotensi tak akan secemerlang yang dibayangkan. Sungguh sangat disayangkan, bukan?

Saniman

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *