Pilkada Jabar 2018; Membangun Daerah Jangan Melupakan Kebahagiakan Warganya

Di tengah kondisi sulit, hanya dua acara yang bisa dilakukan manusia. Yakni, pasrah menerima keadaan dan diam dalam bayang-bayang masalah, atau bangkit membangun harapan. “Ketika semua hal dianggap nothing hanya harapan yang mampu memberikanmu everything,” itulah kira-kira pesan bijaknya.

Pada Pilkada Jawa Barat 2018 ini, jutaan pasang mata tertuju pada kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur. Bagi yang pesimis, pilkada hanyalah ritual simbolis lima tahunan yang diselenggarakan dalam satu kali coblosan saja. Tapi bagi yang optimis, mereka menitipkan harapan di pundak calon pemimpin baru tersebut.

Rasanya sudah banyak slogan membangun daerah yang digelorakan para kandidat di setiap momentum kontestasi politik. Tapi kadang luput untuk membahagiakan warganya. Pembangunan penting, tapi di sisi lain, kebahagiaan warganya tidak kalah penting.

Pertanyaannya, adakah kandidat yang menyentuh perseoalan itu? Atau jika dilihat dari track record kepemimpinannya apakah sudah terbukti? Rasanya tidak sopan kalau melupakan sosok pemimpin di pusat kota Jawa Barat yang sukses membangun kotanya dan mampu meningkatkan indeks kebahagiaan warganya. Namanya Ridwan Kamil, Walikota Bandun.

Coba amati wajah Kang Emil, sapaan dari Ridwan Kamil. Memang ia bukan seorang artis (meskipun beberapa kali kerap jadi artis pelengkap atau figuran di beberapa film yang mengambil lokasi syuting di Bandung). Dia hanya seorang pemimpin. Seorang pejabat publik.

Tapi ia adalah pemimpin yang punya pesona keceriaan yang selalu memancar dari dirinya. Dia selalu menampilkan dirinya dalam tingkah-tingkah yang mengundang senyum geli bagi yang memandangnya. Dia tidak menunjukkan sikap atau perilaku yang ‘jaim’. Tentu kang Emil mengenal batas-batas. Dan sejauh itu tidak melanggar batas-batas, tidak kenapa dia berbagi hal-hal yang membuat kita terhibur dan lainnya.

Ini mungkin sekedar hal kecil di tengah kesibukannya membicarakan hal-hal serius membangun dan menyejahterakan masyarakat Bandung. Tapi berbagi kebahagiaan sekecil apapun tetaplah hal yang penting. Seorang novelis asal Rusia, penulis Dr. Zhivago, Boris Pasternak mengatakan: an unshared happiness is not happiness. Terjemahan bebasnya: kebahagiaan yang dirasakan ente saja secara egois tanpa dibagi-bagi ke orang lain, itu namanya bukan kebahagiaan.

Maka dalil itu menguat dalam diri kang Emil: dia menjelma sebagai seorang pemimpin yang selalu ingin menghadirkan kebahagiaan-kebahagiaan yang dapat dibagi diantara warganya. Tapi biar pun dia suka dan pandai bertingkah atau akting yang kerap membikin geli dan mengundang tawa bahagia, Kang Emil tetaplah seorang pemimpin. Maka cara dia membuat bahagia warganya adalah satu hal penting dari ikhtiarnya menjadi pemimpin di Bandung.

Dengan cara apa? Keberpihakan politik kepada rakyat yang dipimpinnya adalah visi dari kepemimpinannya. Wujud nyata dari visi itu terlihat dari bagaimana dia membangun kota Bandung. Demi kenyamanan masyarakatnya, dia menata kota Bandung sebaik dan seindah mungkin. Dia mengedukasi masyarakat dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik untuk mencintai kebersihan, membuat sampah pada tepatnya, dan kebiasaan-kebiasaan luhur lainnya.

Demi kelancaran urusan masyarakat, dia ciptakan layanan publik yang efektif dan efisien. Dia pangkas berbagai prosedur-prosedur yang menyusahkan. Dia pecat pejabat-pejabat yang tidak memiliki etos kerja. Prinsip dari memimpin bagi kang Emil adalah melayani rakyatnya. Memimpin tak lain adalah menjadi abdi atau pelayan bagi rakyatnya. Maka sinonim yang sesungguhnya bagi kata ‘pemimpin’ tak lain adalah kata ‘pengabdi’ (abdi): ia menjadi abdi bagi rakyatnya.

Dan catat! Segala bentuk pengabdian dari seorang pemimpin adalah memenuhi harapan rakyatnya. Muara dari segala bentuk pengabdian seorang pemimpin adalah demi menyenangkan hati rakyatnya melalui wujud peduli pada kesejahteraan rakyatnya.

Itulah yang dilakukan oleh Kang Emil sebagai wali kota Bandung. Dia memangkas jarak diri dari rakyatnya hanya agar tak ada lagi jarak. Sehingga dia bisa berbaur dan mendengarkan lebih jauh apa yang sungguh-sungguh diinginkan oleh rakyatnya. Ukuran keberhasilan dari pemimpinnya adalah mewujud sebagai kesejahteraan dan kebahagiaan warganya.

Apakah warga Bandung bahagia? Iya. Mereka bahagia. Dan hal ini bukan fiktif belaka. Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Bandung merilis hasil survei Indeks Kebahagiaan warga Bandung. Riset ini dilakukan dengan bekerjasama dengan Laboratorium Quality Control Departemen Statistika Universitas Padjajaran. Hasilnya menunjukkan bahwa Indeks Kebahagiaan Kota Bandung tahun 2017 sebesar 73,42 – naik 0,15 dari tahun 2016. Angka yang sangat bahagia (pikiran-rakyat.com, 7/9/2017).

Seperti dikutip dari pikiran-rakyat.com (7/9/2017), cara pengukuran kebahagiaan di dalam survei dilakukan dengan menggunakan model yang dikembangkan oleh The New Economics Foundation (NEF 2008). Namanya Model Dinamis Kebahagiaan. Model ini lalu dimodifikasi berdasarkan kekinian oleh tim survei dengan pendekatan psychological wellbeing. Dipilih sebagai prioritas sebab pendekatn ini dianggap paling komprehensif.

Survei-survei seperti ini penting. Menurut Kang Emil, ini bisa menjadi acuan bagi seorang pemimpin untuk mengukur dari kebijakan-kebijakannya apakah bisa dirasakan oleh rakyatnya. Dan secara tegas, apakah kebijakannya berhasil memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi warganya. Bagi pemimpin di daerah-daerah lain, pengukuran indeks kebahagiaan semacam ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

Terkhusus bagi Jabar yang tengah menunggu pemimpin politik, Kang Emil bisa menjadi harapan bagi mereka. Pola kepemimpinan dan keberhasilannya menciptakan kebahagiaan bagi warganya di Bandung bisa diwujudkan di Jawa Barat. Tentu saja hal ini bisa terealisasi apabila kang Emil dan pasangannya, Uu, diberi kesempatan untuk memimpin Jawa Barat.


Penulis:
Munawar, Warga Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *