persepsi.id

selaras edukatif

https://www.pexels.com/photo/white-paper-on-a-vintage-typewriter-4057659/
ARTIKEL

URGENSI JURNALISME SENSITIF GENDER

Dunia jurnalistik memiliki peran penting untuk mempromosikan tentang kesetaraan gender. Perempuan menjadi salah satu gender yang sering dilemahkan dalam media. Hal ini dikarenakanan media massa yang beralih peran menjadi reflektor atas ketidakadilan gender bagi mereka yang merasa ordinat. Media massa dibuat sedemikian rupa sebagai cerminan atas masyarakat dalam memandang perempuan.

Berbicara mengenai perempuan dalam media, ada beberapa urgensi yang patut dibahas pada tulisan ini, yang pertama adalah mengenai representatif perempuan dalam media massa. Sampai saat ini, perempuan hanya dipandang sebagai objek komersialisasi untuk mendapatkan perhatian khalayak dan keuntungan penguasa semata. Stereotip mengenai peran perempuan digembar-gemborkan melalui narasi atau visualisasi yang diolah sedemikian rupa oleh pemilik media. Dalam hal ini, perempuan digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya, yang membutuhkan perlindungan, yang lemah bahkan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, atau hanya sebagai sosok yang identik dengan wilayah domestik saja. Sebaliknya, perempuan yang melawan kodrat digambarkan sebagai sosok yang murka, perempuan nakal atau pelacur, dan berbagai stereotip lain yang merugikan kaum perempuan.

Eksploitasi perempuan melalui pemilihan diksi yang melemahkan dalam mengemas berita  juga dianggap sebagai hal yang merugikan. Sebagai contoh dalam pemberitaan mengenai remaja perempuan di Bengkulu yang diperkosa bergilir oleh 14 lelaki menjadi eksploitatif karena mengangkat pergaulan sehari-hari korban. Korban digambarkan sebagai perempuan yang genit dan mudah bergaul dengan laki-laki. Hal ini kemudian menciptakan persepsi baru dimasyarakat untuk berbalik memusuhi korban dan keluarganya. Pemberitaan seperti itu lah yang dapat menggiring opini publik untuk terus menyalahkan perempuan. Dalam hal ini perempuan menanggung beban ganda, yaitu sebagai korban kekerasan seksual dan sebagai korban pemberitaan media.

Yang kedua, perempuan dianggap sebagai makhluk yang tidak mampu atau tidak pantas mengemban kedudukan di wilayah jurnalistik. Dunia jurnalistik masih dianggap sebagai ruang kerja kaum patriarki. Perempuan dianggap sebagai manusia sub ordinat yang sering diabaikan pendapatnya. Peran perempuan dalam media perlu diintensifkan terkait keterlibatan perempuan dalam penentuan isu-isu berperspektif gender. Keterlibatan ini diharapkan dapat meminimalisir isu yang tidak ramah perempuan. Komodifikasi perempuan di ruang ini pada dasarnya merupakan bentuk ketidakadilan gender secara struktural.

Yang ketiga adalah sejauh mana penguasa mampu mengambil keputusan dalam menentukan isu pemberitaan yang memiliki sensitivitas gender. Berdasarkan fenomena hari ini, media massa seringkali abai pada isu-isu perempuan dan persoalan mengenai gender. Hal ini berakibat pada representasi perempuan yang ditampilkan dalam media massa semakin mensubordikasi kaum perempuan.

Asumsi mengenai media sebagai salah satu unsur yang ikut melanggengkan ketidakadilan gender telah terbukti melalui berbagai pemberitaan dalam kasus kriminal. Salah satu contohnya adalah kasus perkosaan yang telah dijelaskan pada paragraf di atas, ketika sudah seharusnya tidak terbantahkan lagi bahwa dalam kasus tersebut perempuan kerap kali dituding sebagai sosok yang andil dalam menyebabkan kasus perkosaan. Laki-laki sebagai pelaku seringkali melakukan pembelaan alih-alih perempuan lah yang disalahkan. Kiranya perlu dipahami bersama bahwa media saat ini masih berkiblat pada sudut pandang patriarki dalam membingkai perempuan. Urgensi mengenai jurnalisme sensitif gender dirasa perlu untuk terus dibahas di kalangan jurnalis dan praktisi media demi terciptanya media massa yang ramah terhadap isu perempuan.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *